Devosi kepada kerahiman Ilahi adalah sikap hormat dan bakti kita yang tulus dan mendalam, yang disertai dengan sikap penyerahan diri kepada Kerahiman Allah, sebagai sifat yang paling utama Allah kepada manusia. Kerahiman (rahim, rochim/Arab) adalah penyayang. Rahim mengandung juga makna dan unsur: kasih, sayang, pengampunan, kemurahan, kebaikan, rahmat, anugerah, atau keselamatan. Kerahiman adalah rahmat dan anugerah Allah kepada manusia, yang hanya dimiliki oleh Allah dan menjadi kodrat-Nya. Devosi Kerahiman Ilahi adalah devosi yang ditujukan kepada Allah Bapa melalui Yesus. Yesus memperkenalkan Allah Bapa kepada manusia.

        Devosi ini adalah sebagai pertolongan terakhir Yesus untuk dunia dan manusia yang berdosa. Tuhan Yesus sendiri memperkenalkan devosi ini kepada Suster Faustina pada tanggal 22-3-1931 dan meminta agar ada devosi kepada Kerahiman Allah melalui gambar/lukisan Yesus Maharahim. Faustina adalah               seorang biarawati yang banyak menderita dan sakit-sakitan semasa hidupnya. Ia banyak menerima wahyu-wahyu secara pribadi tetapi diragukan oleh lingkungannya. Bahkan devosi berdasarkan hubungannya dengan Yesus dan Bunda Maria mula-mula diragukan oleh Gereja. Tetapi berkat kegigihannya akhirnya devosi Kerahiman Allah dapat diperkenalkan melalui Faustina ke seluruh dunia. Faustina yang dilahirkan pada tanggal 25 Agustus 1905 di kampung Glogoweic, Polandia, yang penduduknya sangat miskin dan waktu itu dalam penjajahan Rusia. Faustina sejakk kanak-kanak telah menerima panggilan Tuhan untuk menjalani kehidupan yang lebih sempurna. Ia pernah menyamar sebagai pengemis dan hasil pemberian orang-orang ia bagi-bagikan kepada para pengemis. Karena orang tuanya miskin pada usia remaja ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan penjaga toko. Pada suatu hari ia melihat penampakan Yesus sebagai manusia yang menderita, setengah telanjag dan penuh luka. Ia pergi ke Gereja dan memohon petunjuk Tuhan untuk menunjukkan jalan kepadanya dan ia mendengar jawaban bahwa ia harus ke Warsawa untuk masuk biara. Namun di Warsawa ia ditolak karena miskin dan tidak punya apa-apa untuk menjamin hidupnya pada tahap awal. Setelah kemudian diterima menjadi biarawati ia mendapat penglihatan jiwa-jiwa di Api Penyucian. Faustina rajin berdoa dan pekerjaannya berganti-ganti mulai dari tukang cuci piring, bekerja di dapur, penerima tamu sampai tukang kebun. Pada tanggal 22 februari 1931 ia mendapat penglihatan Yesus yang Maharahim dan Yesus meminta kepadanya agar penglihatannya itu dilukis dan diberi tulisan: Yesus Engkau andalanku.

             Penglihatannya itu dilaporkan kepada pastor pengakuan dosanya san suster pimpinannya tetapi mereka menyepelekannya dan menyuruh ia menggambar penglihatannya itu. Tetapi ia tidak dapat menggambar apa yang dilihatnya dan walaupun telah meminta bantuan teman-teman lain usaha itu tetap gagal. Tetapi Pastor Michael Sopocko, imam pembimbing rohani dan bapak pengakuan para suster, bersikap positif dan mempercayai penglihatan Faustina. Pada tahun 1934 seorang pelukis terkenal bernama kazimierowski diminta untuk membuat gambar yang sesuai penglihatan Faustina. Tetapi setelah lukisan selesai, Faustina menangis dan merasa kecewa karena lukisan Yesus itu tidak seindah penglihatannya. Ia berdoa di kapela dan bertanya: siapa yang mampu melukis Yesus yang sebenarnya. Yesus menjawab: “Keluhuran lukisan ini bukan dalam keindahan warna atau goresan kuas, melainkan dalam kasih karunia-Ku.”

              Pada bulan April 1935, dalam rangka Triduum menjelang akhir Tahun Yubelium Penebusan, di tempat umat biasanya menghormati Bunda Maria Berbelas Kasih, lukisan yesus Maharahim karya pelukis Kazimieorwski, diperlihatkan pertama kali kepada umum. Ketika Pater Sopocko menunjukkan lukisan itu dalam kotbahnya, Faustina melihat Yesus pada gambar itu mulai bergerak dan kedua sinar-Nya memancar kepada umat yang berdoa.

              Pada tanggal 13 dan 14 September 1935, Yesus mengajari Faustina doa Koronka kepada Kerahiman Ilahi. Doa itu adalah doa untuk meredakan murka allah dan siapa yang meengucapkannya akan menerima banyak rahmat, khususnya rahmat tobat dan kematian yang baik.

              Pada tahun 1937 Faustina jatuh sakit dan kesehatannya semakin merosot. Ia dibebaskan dari pekerjaannya sebagai tukang kebun dan menjadi penerima tamu. Pada suatu hari ketika hujan turun dengan derasnya pintu biara diketuk orang dan ia menerima seorang tamu yang aneh. Tamu itu seorang pemuda yang berpakaian compang camping dan tamu itu meminta makanan karena kelaparan. Faustina bergegas ke dapur dan menyiapkan sup dengan potongan roti untuk dihidangkan kepada tamunya. Ketika Faustina mengambil piring kosong dari tamu itu, ia segera menyadari bahwa tamu itu adalah Yesus. Secara tiba tiba Yesus menghilang dari hadapan Faustina. Ia yakin bahwa tamu itu adalah Yesus.

              Ketika Pater Sopocko mengunjungi Faustina yang sakit di Krakow, Faustina telah memberi kesan sebagai seorang insan surgawi. Faustina berkata bahwa ia sibuk berelasi erat dengan Bapa Surgawi. Pada tanggal 5 Oktober 1938, Faustina dengan muka cerah mengatakan bahwa Tuhan Yesus akan mengambilnya pada hari itu. Ia dipanggil Tuhan pada jam 22.45 dalam usia 33 tahun. Pada tanggal 31 Agustus 1968 vatikan memutuskan untuk membuka proses beatifikasi Suster Faustina, dan tanggal 18 April 1993 faustina diangkat beata oleh Paus Yohanes Paulus II di Roma. Pada tanggal 30 April 2000 Faustina diangkat Santa oleh Paus Yohanes Paulus II di Roma bertepatan dengan hari Minggu II Paskah yang ditentukan sebagai Pesta Kerahiman Ilahi.

sumber: Bunda Maria Pengantara Rahmat Allah; Herman Musakabe

About these ads